07
Sep
08

sabar dalam ujian=wajib

Hidup adalah perjuangan. Begitulah kata banyak orang. Kita hidup nggak mungkin lepas dari ujian dan cobaan. Apalagi kita udah ngaku sebagai muslim, mukmin, muhsin, atau bahkan mujahid. Tentu ujian akan datang bertubi-tubi tiada henti.

Ujian datang, bukan berarti Allah membenci kita. Tapi justru ujian merupakan tanda cinta dari Allah kepada kita. Ketika Allah menguji kita, itu berarti Allah sedang mengingat kita.

Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa yang dikehendaki Allah padanya suatu kebaikan (keuntungan), maka diberinya penderitaan.” (Hadits Riwayat Bukhori)

Dalam hadits yang lain, beliau bersabda:

Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian bala’, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai sesuatu kaum, maka kaum itu diuji-Nya lebih dulu. Maka barangsiapa yang rela mendapat ujian itu, baginya keridhaan Allah, dan barangsiapa yang benci, baginya kemurkaan Allah.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)

Jadi sudah jelas kan? Bahwa ujian itu bukti cinta Allah. Semakin Allah mencintai kita, akan semakin banyak ujian yang kita dapetin. Jangan pernah takut mengahadapi ujian itu. Hadapi aja. Allah memberi kita ujian, pasti ada jalannya kok.

“Sesungguhnya di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan.” (Q.S. Al Insyirah: 6)

Itu janji Allah. Dan yakinlah, janji Allah nggak mungkin salah.

Sabar atau ridho adalah bukti ketaqwaan diri kepada-Nya. Bila direnungkan pada awalnya, tipis benteng kekuatan dan ketabahan diri ini. Malu dengan Allah. Malu dengan diri. Perasaan berhak, perasaan memiliki, selalu membuat diri lupa bahwa sesungguhnya diri ini tak memiliki apa-apa.

Sesungguhnya semuanya pinjaman semata. Semuanya milik Allah. Di mulut memang mudah melafadzkan, tetapi iman dan taqwa teruji bila Allah timpakan ujian.

Sakit rasanya apabila memikirkan apa yang kita miliki hilang. Sedangkan hakikatnya bukanlah hilang. Tetapi diri yang lupa selama ini hanya meminjam. Betapa diri lupa bahwa segalanya hanyalah milik Allah. Apapun kehendak Allah tidak akan dapat ditangguhkan.

Sungguh indah sabda Rasulullah SAW:

Mengagumkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya adalah baik bagi dirinya. Semuanya itu takkan terjadi kecuali bagi seorang mukmin, yang bila mengalami kebahagiaan ia bersyukur. Dan bila mengalami kesulitan ia bersabar, hal itu juga baik baginya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Bila direnung-renung, layakkah diri digelar seorang mukmin-mukminah? Sedang diri selalu lupa bersyukur di kala gembira dan diri sering gagal untuk bersabar bila diuji. Kesakitan terasa di mana-mana. Diri berusaha meneguhkan hati, menyekat perasaan yang menggila tapi selalu gagal.

Diri ini tak segagah mana ya Allah. Di kala diuji baru terasa diri ini seperti tiada nilai di mata-Mu, apatah lagi di mata manusia. Diri ini bukan siapa-siapa, dan diri ini tiada berkuasa.

Ya Allah, segala apa yang Engkau berikan atau Engkau ambil, segalanya di tangan-Mu. Aku pasrahkan diri. Sadar kedzaifan diri yang tidak pernah memiliki apa-apa. Diri ini lemah dalam bermujahadah. Malu dengan Allah, malu juga dengan diri. Ya Allah, diri ini teramat lemah. Ampunilah aku Ya Allah. Ampuni diri ini, duhai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang….

Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut. Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah dibutuhkan oleh seorang hamba dalam menghadapi badai cobaan yang menerpanya. Sehingga tidak menjadikan dirinya berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap apa yang telah ditentukan baginya.

“Ini adalah keadaan seorang mukmin. Setiap manusia berada dalam ketentuan-ketentuan Allah, baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Dan manusia dalam menyikapi ujian dan cobaan ini terbagi menjadi dua golongan : mukmin dan non mukmin (kafir).
Adapun golongan Mukmin ; menganggap baik segala ketentuan Allah baginya. Jika kesusahan itu menimpanya, maka dia bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah dan senantiasa menanti pertolongan-Nya serta mengharapkan pahala Allah. Semua itu merupakan perkara yang baik baginya dan dia memperoleh ganjaran kebaikan selaku orang-orang yang bersabar.

Wallahu a’lam.


4 Tanggapan ke “sabar dalam ujian=wajib”


  1. Februari 2, 2009 pukul 9:33 pm

    Diriwayatkan dari Sa‘ad bin Abi Waqqos a ia berkata, “Aku berkata, “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling dahsyat ujiannya?” Rosululloh bersabda, “Para nabi, setelah itu orang-orang sholeh, setelah itu yang berikutnya dan berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, bala-nya pun bertambah. Jika kadar agamanya tipis, balanya diringankan. Dan orang beriman akan terus ditimpa bala sampai ia berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun ada kesalahan pada dirinya.” (Shohih Bukhôrî Muslim)

    Jalan ini adalah jalan yang Nabi Adam harus menanggung kelelahan dalam menempuhnya. Karena jalan ini pula, Nabi Nuh mengisi hidupnya penuh derai air mata. Disebabkan jalan ini Al-Kholil (kekasih Alloh) Ibrohim dilempar ke dalam api. Nabi Ismail harus rela diterlentangkan untuk disembelih. Nabi Yusuf rela dijual sebagai budak dengan harga murah, dan mendekam di penjara bertahun-tahun. Nabi Zakariya digergaji tubuhnya. Nabi Yahya disembelih. Nabi Ayyub bergelut melawan penyakit. Nabi Dawud menangis melebihi kebiasaan manusia biasa. Nabi Isa dipaksa hidup dalam keterasingan. Dan Nabi Muhammad sendiri harus hidup akrab dengan kemiskinan dan berbagai intimidasi. Sementara engkau bersenang-senang dalam kelalaian dan senda gurau!!
    ummat Islam, sadarilah bala ujian adalah sejarah dan kisah panjang sejak diturunkannya kalimat La ilaha illalloh ke muka bumi. Para nabi dan orang-orang yang jujur imannya silih berganti menerima bala ujian. Demikian juga dengan para pemimpin yang memegang tauhid.

    Oleh karena itu, siapa saja yang meniatkan dirinya secara tulus untuk memikul kalimat La ilaha illalloh dan membela serta ingin membumikannya di muka bumi, ia harus mau menebus status mulia ini dengan menanggung beban-beban berat, baik itu kelelahan, keletihan, dan bala.

  2. Februari 2, 2009 pukul 9:34 pm

    Diriwayatkan dari Sa‘ad bin Abi Waqqos a ia berkata, “Aku berkata, “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling dahsyat ujiannya?” Rosululloh bersabda, “Para nabi, setelah itu orang-orang sholeh, setelah itu yang berikutnya dan berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, bala-nya pun bertambah. Jika kadar agamanya tipis, balanya diringankan. Dan orang beriman akan terus ditimpa bala sampai ia berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun ada kesalahan pada dirinya.” (Shohih Bukhôrî Muslim)
    Jalan ini adalah jalan yang Nabi Adam harus menanggung kelelahan dalam menempuhnya. Karena jalan ini pula, Nabi Nuh mengisi hidupnya penuh derai air mata. Disebabkan jalan ini Al-Kholil (kekasih Alloh) Ibrohim dilempar ke dalam api. Nabi Ismail harus rela diterlentangkan untuk disembelih. Nabi Yusuf rela dijual sebagai budak dengan harga murah, dan mendekam di penjara bertahun-tahun. Nabi Zakariya digergaji tubuhnya. Nabi Yahya disembelih. Nabi Ayyub bergelut melawan penyakit. Nabi Dawud menangis melebihi kebiasaan manusia biasa. Nabi Isa dipaksa hidup dalam keterasingan. Dan Nabi Muhammad sendiri harus hidup akrab dengan kemiskinan dan berbagai intimidasi. Sementara engkau bersenang-senang dalam kelalaian dan senda gurau!!
    ummat Islam, sadarilah bala ujian adalah sejarah dan kisah panjang sejak diturunkannya kalimat La ilaha illalloh ke muka bumi. Para nabi dan orang-orang yang jujur imannya silih berganti menerima bala ujian. Demikian juga dengan para pemimpin yang memegang tauhid.
    Oleh karena itu, siapa saja yang meniatkan dirinya secara tulus untuk memikul kalimat La ilaha illalloh dan membela serta ingin menegakkannya di muka bumi, ia harus mau menebus status mulia ini dengan menanggung beban-beban berat, baik itu kelelahan, keletihan, dan bala.

  3. Februari 2, 2009 pukul 10:46 pm

    Diriwayatkan dari Sa‘ad bin Abi Waqqos a ia berkata, “Aku berkata, “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling dahsyat ujiannya?” Rosululloh bersabda, “Para nabi, setelah itu orang-orang sholeh, setelah itu yang berikutnya dan berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, bala-nya pun bertambah. Jika kadar agamanya tipis, balanya diringankan. Dan orang beriman akan terus ditimpa bala sampai ia berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun ada kesalahan pada dirinya.” (Shohih Bukhôrî Muslim)

    Jalan ini adalah jalan yang Nabi Adam harus menanggung kelelahan dalam menempuhnya. Karena jalan ini pula, Nabi Nuh mengisi hidupnya penuh derai air mata. Disebabkan jalan ini Al-Kholil (kekasih Alloh) Ibrohim dilempar ke dalam api. Nabi Ismail harus rela diterlentangkan untuk disembelih. Nabi Yusuf rela dijual sebagai budak dengan harga murah, dan mendekam di penjara bertahun-tahun. Nabi Zakariya digergaji tubuhnya. Nabi Yahya disembelih. Nabi Ayyub bergelut melawan penyakit. Nabi Dawud menangis melebihi kebiasaan manusia biasa. Nabi Isa dipaksa hidup dalam keterasingan. Dan Nabi Muhammad sendiri harus hidup akrab dengan kemiskinan dan berbagai intimidasi. Sementara engkau bersenang-senang dalam kelalaian dan senda gurau!!
    ummat Islam, sadarilah bala ujian adalah sejarah dan kisah panjang sejak diturunkannya kalimat La ilaha illalloh ke muka bumi. Para nabi dan orang-orang yang jujur imannya silih berganti menerima bala ujian. Demikian juga dengan para pemimpin yang memegang tauhid.

    Oleh karena itu, siapa saja yang meniatkan dirinya secara tulus untuk memikul kalimat La ilaha illalloh dan membela serta ingin menegakkannya di muka bumi, ia harus mau menebus status mulia ini dengan menanggung beban-beban berat, baik itu kelelahan, keletihan, dan bala.Lihat

  4. 4 Matahariku_Jogja
    Mei 27, 2009 pukul 7:16 am

    pernah terpikirkan oleh saya, menganalogikan ujian-ujian dari Allah kadang berulang, dengan kontens yang sama. Sepertinya Allah menguji kita sampai kita paham benar dan lulus dengan cumlaude. nyatanya ujin itu berulang-ulang, itu mungkin bukti kita belum lulus dengan ujin pertama kali kita dapatkan, seperti ujin di kampus saja, misalnya di kedokteran yang selalu ada remidial (ujin perbaikan), dan indikasinya lulusan kedokteranm itu banyak yang berpotensi cumlaude. Analoginya Allah menguji dengan sistem remidial,sehingga kita diluluskan dengaan beberapa kali ujian yang sama, dan Allah menginkan kita cumlaude dan paham akan ilmu yang Allah hendak berikan pada kita.
    kata terakhir, jika ujian Allah tidak ada remidi…bagaimana kita bisa tahu Allah masih sayang sama kita atau tidak…


Tinggalkan Balasan




 

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 10,715 hits