Ada seorang ikhwan. Sejak kecil dia telah terpaut erat dengan masjid. Memakmurkan dan membesarkan masjid. Memberdayakan masjid agar bisa bermanfaat bagi ummat. Cita-citanya hanya satu: ingin menegakkan Islam di kampungnya melalui masjid.
Singkat cerita, dia sudah merintis TPA, menghidupkan dan memberdayakan remaja masjid, berupaya apapun demi menolong generasi muda Islam. Ia bahkan telah merasakan pahit getirnya dunia dakwah. Dipukuli fisik oleh orang-orang yang tidak suka nasehat-nasehatnya. Dicaci maki dan dihina. Semuanya.
Di kampung yang sama, ada seorang gadis muda. Belum lama dia mendalami Islam. Dia menemukan Islam, dan memulai perjuangan dalam dakwah. Namun baginya, dakwah saja masih belum cukup. Jihad tetaplah hal tertinggi dalam pohon Islam. Dan dia menginginkan syahid sebagai akhir hidupnya. Dia bercita-cita ingin menjadi wartawan perang. Dia ingin ikut berjihad di Dunia Islam yang sekarang sedang terluka. Dia ingin ke Palestina, ke Afghanistan, ke Bosnia, ke Irak, agar ia bisa ikut berjihad (perang).
Maka mulailah ia menanamkan jiwa militansi ke dadanya. Tak ada rasa takut mati. Tak ada gentar sedikitpun. Untuk apa takut mati jika itu adalah satu-satunya jalan bertemu Allah?
Lantas ia mulai agak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ustadzah TPA. Dengan berbagai kesibukan dakwah dan belajar, dia benar-benar mulai bosan dengan jerih payahnya di TPA yang tidak ada hasilnya. Santri-santri TPA tetap bandel. Bahkan hampir tak ada yang patuh sama ustadz-ustadzahnya. Dia lelah. Dia merasa semua ini tidak ada gunanya.
Hingga pada suatu ketika, BADKO TKA-TPA Kabupaten berinisiatif memberikan insentif kepada ustadz TPA se-kabupaten. Dia pun mendapatkannya. Namun, adiknya yang juga tercatat sebagai ustadz TPA ternyata tidak mendapatkannya. Atas desakan nafsu, emosi, dan juga amarah orang tuanya, dia pun mulai mengungkit-ungkit jasa adiknya pada TPA. Menurutnya, meskipun adiknya jarang masuk TPA, namun dia pun ikut ketika ada upaya penggalangan dana untuk perbaikan dan peningkatan mutu TPA. Adiknya ikut meminta-minta kepada donatur yang ditunjuk. Yang kadang diberi, kadang pun tidak. Hingga akhirnya, keluarlah kata-kata yang tidak bijaksana dari mulut gadis itu. ‘Pengemis’. Ya, pengemis. Dia merasa adiknya Cuma dijadikan semacam gembel, pengemis. Kepada koordinator TPA yang tidak lain adalah ikhwan yang sejak kecil hatinya terpaut di masjid itulah kata-kata itu disampaikannya.
Reaksi ikhwan tersebut sungguh di luar dugaan.
Untuk pertama kalinya, gadis itu melihat ikhwan tersebut menangis. “Sakit hati ini dikatakan pengemis! Jika orang-orang yang aku minta datang ke donatur itu adalah pengemis, maka akulah koordinator pengemis! Ya Allah, hamba-Mu yang berjuang untuk agama-Mu ini dikatakan pengemis! Ya Allah, inikah ujian-Mu?”
Dengan mata nanar dan memerah, ikhwan itu menatap si gadis. “Demi Allah, insya Allah kita bukan pengemis! Di mata Allah kita bukan pengemis! Kita pejuang! Kita tidak sia-sia di mata Allah!”
Langsung saja, semua yang hadir waktu itu ikut tegang. Tak sedikit pula yang menangis. Termasuk gadis yang telah mengatainya itu. Tak terbendung lagi air matanya. Membuncah membasahi pipinya.
“Aku tidak marah pada kalian semua. Aku pun tak ada maksud untuk menjadikan kalian pengemis! Aku bisa saja mendatangi donatur itu sendirian. Tapi aku mengajak kalian, karena aku ingin kalian pun berjuang dan tertulis nama kalian dalam sejarah kebangkitan Islam. Aku mengajak kalian justru untuk menjadikan kalian pahlawan dan pejuang bagi agama Allah!
Dan satu lagi, boleh saja kita mengharapkan imbalan dalam bentuk materi. Namun, ingatlah, ketika kita hanya mengharapkan dunia dalam perjuangan kita, maka Allah hanya akan memberikan sedikit dari dunia. Namun jika kita mengharapkan akhirat, maka kita akan memperoleh keduanya. Demi Allah, inilah janji Allah yang tidak mungkin diingkari-Nya. Jadi, bila kita hanya sekedar mengharapkan uang insentif yang tidak seberapa itu, walaupun kita sudah bersusah payah, di hadapan Allah kita tidak akan memperoleh apa-apa. Di hadapan Allah semuanya sia-sia. Apa kita rela, amalan perjuangan kita yang sudah merintis TPA dan masjid ini selama lebih dari 8 tahun akan hilang begitu saja tanpa ada pahalanya di sisi Allah?”
Kata-kata itu sungguh menohok ke hati sang gadis. Semua yang dikatakan adalah kebenaran. Semua yang dikatakan adalah untuk memperingatkan. Itu saja.
Selama ini dia pikir, pejuang Allah, mujahid Allah, hanyalah orang-orang yang bertempur di jalan-Nya. Orang-orang yang berperang secara fisik saja. Namun melalui kejadian ini, barulah dia sadar. Bahwa ikhwan dan kawan-kawannya tadi justru mujahid yang sebenarnya. Berjuang dalam medan dakwah yang sesungguhnya. Tanpa kenal pamrih. Tak mengharap pujian dan balasan apapun dari manusia.
Demi Allah, ini bukan aib. Ikhwan yang kumaksud adalah pamanku. Dan gadis yang sombong dan belum lama mendalami Islam itu adalah aku. Jiwa militan barangkali telah tertanam dalam diriku. Terpatri lekat dalam hatiku. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa jihad adalah puncak dari pengabdian terhadap Dinul Haq, Islam. Cita-cita menjadi mujahidah telah mendarah daging padaku. Tapi kejadian beberapa hari lalu tersebut seolah menyadarkan aku, bahwa kita memang harus selalu bermuhasabah, untuk apa semua cita-cita kita?
Kepada pamanku, Anggit Nurrachman, semoga Allah membalasmu dengan beribu-ribu kebaikan dunia dan akhirat. Terimakasih telah menyadarkanku. Terimakasih telah menyelamatkanku dari murka Allah. Engkaulah mujahida sejati, mujahid dakwah dan jihad yang sebenarnya.
(yan)
pembinaan yang melahirkan mujahid/mujahidah mungil dan mengerti akan makna rukun syahadat yang menapikan dan itsbat sesuai dengan syariat yang telah diturunkan melalui nabi muhammad merupakan mutiara mutiara yang akan membawa kembali gemerlap dunia yang telah hilang
Benar sekali. Jihad di saat ini adalah dgn menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Yaitu ilmu al-quran dan as-sunnah sesuai pemahaman para salaful ‘ummah. Itulah sebaik-baik amalan di saat ini
Dan akan datang masanya nanti, jihad dengan mengangkat senjata. Tapi ingat, sekarang belum saatnya.
Tunggu saja..